Minggu, 09 Maret 2014

Hee Ah Lee, Tidak Ada yang Tidak Mungkin

Diposting oleh korean addict di 16.38




Keterbatasan fisik tidak menyurutkan langkah Hee Ah Lee berkarya di dunia musik. Meski hanya memiliki empat jari berbentuk capit kepiting. Hee Ah piawai memainkan lagu-lagu komponis dunia. 
Mempunyai kekurangan fisik bukan berarti tidak memiliki masa depan. Prinsip ini yang mungkin digunakan seorang pianis empat jari Hee Ah Lee untuk menapaki kariernya di dunia musik. Kemampuannya bermain piano tidak kalah dibanding mereka yang berjari lengkap. Empat jari berbentuk capit kepiting itu bahkan tidak menghalangi untuk memainkan karya-karya musisi legendaris seperti Chopin, Beethoven, dan Mozart.
Hee Ah Lee di lahirkan pada 9 Juli 1985 di Seoul, Korea. Lahir sebagai orang yang cacat, Hee Ah dinilai sebagai aib bagi keluarganya. Jumlah jari tangannya yang hanya empat buah (atau biasa dikenal lobster claw syndrome) serta kakinya hanya sebatas lutut, membuat Hee Ah berbeda dengan anak lainnya. Karena kekurangannya ini, keluarganya bahkan pernah memaksa ibunya Woo Kap Sun untuk menitipkan anaknya di panti asuhan. Namun, hal ini ditolak Woo Kap. Meski anaknya mengalami berbagai kekurangan, dia sangat menyayangi anaknya.
Memang saat Hee Ah masih dalam kandungan, Woo Kap yakin anaknya pasti akan terlahir cacat. Hal ini karena kebiasaan Woo Kap mengonsumsi berbagai obat-obatan saat dia mengandung Hee Ah. Lantaran kebiasaannya itu, keluarga besar Woo Kap sempat melarangnya untuk melahirkan anak yang sedang dia kandung. Namun, hal itu tidak dia gubris. “Aku tidak bisa. Bagaimana pun ini anakku. Darah dagingku sendiri dan tidak mungkin aku gugurkan,” aku Woo Kap.
Setelah bayi lahir, akhirnya Woo Kap memberi nama anak itu dengan nama Hee Ah Lee. Hee berarti sukacita dan Ah adalah tunas pohon yang terus tumbuh. Sedangkan Lee merupakan nama keluarga. Jadi, Hee Ah Lee berarti suka cita yang terus tumbih seperti tunas pohon.
Tanpa dukungan keluarganya, Woo merawat, mendidik, dan mengajari Hee degan segala kasih sayang. Baginya, Hee bukanlah aib, namun anugerah Tuhan meski terlahir kurang sempurna. Berkat kegigihan Woo jugalah, Hee akhirnya muncul sebagai salah satu pianis ternama di dunia. Sejak usia enam tahun, Woo telah mengenalkan anaknya dengan piano meskipun saat itu tangan Hee belum bisa mengenggam sebuah pensil. Memang butuh waktu dan kerja keras serta dilandasi keuletan yang luar biasa untuk melatih jari-jari Hee. Belum lagi untuk mengenalkan not balok pada Hee yang punya keterbelakangan mental. Awalnya, untuk menguasai sebuah lagu saja, dibutuhkan waktu sekitar satu tahun. Itu pun dilakukan hanya dengan latihan intensif minimal sepuluh jam dalam sehari.
Hal ini tidak menyurutkan Woo untuk tetap mengajari putri kesayangannya. Secara ulet dan sabar dia mengajari Hee memencet satu tuts ke tuts yang lain, dan juga mengajari perpindahan satu nada ke nada yang lain. Untuk menambahkan kemampuan anaknya, dia bahkan menyewa beberapa guru pengajar piano. Sedikitnya lima guru telah mengajarkan Hee untuk bermain piano seperti orang normal dengan 10 jari.
Memang untuk membesarkan Hee yang memiliki berbagai kekurangan tidaklah mudah bagi Woo. Apalagi, selain merawat Hee, Woo juga harus merawat suaminya yang mengalami kelumpuhan akibat terluka saat bertugas sebagai tentara. Hal ini tidak pernah menyurutkan niatan Woo untuk tetap sabar membesarkan putri tercintanya.
Ketika Hee sempat mogok main piano dan harus dirawat di rumah sakit jiwa, Woo tetap memberikan semangat bagi anaknya. Dia berusaha keras untuk mengembalikan kepercayaan diri pada anaknya untuk terus bermain piano. Jika dia berhenti bermain, Hee Ah tidak akan mendapatkan pengakuan dari orang-orang sekitarnya.
Akhirnya, kasih sayang yang diberikan Woo mampu membakar semangat anaknya. Ditambah lagi, banyaknya surat dari penggemar sebagai feed back dari buku tentang perjuangan Hee Ah, menambah kepercayaan diri anak yang sedang terpuruk. “Setelah buku ini terbit, banyak anak yang mengirim surat pada Hee Ah. Aku dan Hee Ah senang membaca tulisan anak-anak ini. Surat dari anak-anak itu menggugah semangatnya. Hee Ah mulai main piano lagi,” ungkap Woo.
Sejak saat itulah, Hee Ah semakin rajin belajar piano. Dalam waktu satu hari, Hee Ah bahkan bisa menghabiskan waktu 6-13 jam belajar memainkan piano. Kemampuan Hee Ah lambat laun akhirnya tumbuh seiring dengan semakin membaiknya karier di dunia musik. Ketika karier sudah mulai ada titik terang, kembali cobaan menerpa keluarga Hee Ah. Saat itu suaminya yang telah mengisi hari-harinya akhirnya harus dipanggil Yang Maha Kuasa. Kejadian ini membuat Woo terpaksa meninggalkan pekerjaannya sebagai perawat. Dia putuskan untuk berkonsentrasi membesarkan nama anaknya di dunia musik.
Perjuangan ibu mulia ini membuahkan hasil, Hee Ah di usianya ke-24 tahun telah tumbuh menjadi salah satu pianis ternama di dunia. Dia bahkan kini menjadi salah satu inspirator bagi anak-anak yang kurang beruntung di seluruh dunia.
Dengan kemampuan yang diperoleh dari ketekunan dan keuletan berlatih itu, serta kasih sayang ibunya, Hee kini telah berkeliling dunia. Ia menginspirasi orang dengan keyakinan bahwa tidak ada yan tidak mungkin di dunia jika kita mau bekerja keras dan sungguh-sungguh berusaha mewujudkannya. Meski begitu, sebagai manusia biasa, Hee juga pernah mengalami patah semangat. “Bayangkan anda makan satu jenis makanan terus menerus sampai bosan. Tapi, aku memakannya terus. Aku terus berlatih terus menerus,” ungkap Hee Ah Lee.

Resource :
Seputar Indonesia
http://symbian.byethost22.com/artikel-13-hee-ah-lee-tidak-ada-yang-tidak-mungkin.html

0 komentar:

Posting Komentar

Daftar Isi

 

Korean Addict Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos